Showing posts with label Sabar is the best. Show all posts
Showing posts with label Sabar is the best. Show all posts

Thursday, June 9, 2016

Media kalimantan

http://www.kalimantanpost.com/dewan-diminta-promosikan-karya-wanita-transmigran/

Tuesday, December 15, 2015

Pentingnya menuntut Ilmu

Pentingnya Menuntut Ilmu
Aku gak bisa sekolah di Jawa seperti keinginanku selama ini. Aku harus bisa menerimanya meskipun sedih sekali rasanya. Aku harus bisa menerima  keadaan orang tuaku. Aku disekolahkan di SMK pertanian, sekolah yang masih berstatus persiapan dan memiliki murid yang bisa dihitung dengan jari. Kenapa sih aku nulis semua ini? Ya supaya kalian semua itu tahu bahwa kalian itu gak sendiri, masih banyak orang-orang yang kurang beruntung seperti aku yang berusaha bertahan di dalam kesulitan hidup untuk mengenyam pendidikan, karena menurutku  pendidikan itu perlu sekali. Menuntut ilmu itu penting seperti yang diriwayatkan Abu Darda’ r.a: “Barang siapa melakukan perjalanan untuk keperluan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat meletakan sayapnya bagi pencari ilmu karena senang dengan apa yang diperbuatnya dan sesungguhnya orang yang berilmu akan dimintakan ampunan oleh seluruh makhluk yang ada di langit dan ada di bumi, termasuk ikan di air. Dan keutamaan orang yang berilmu dibandingkan dengan  seorang ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi. Dan sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dinar atau dirham, tetapi mereka hanya mewariskan ilmu maka barang siapa yang memeganginya, ia akan memperoleh bagian yang sempurna.” (H.R. Tirmizi).
Banyak pendapat bahwa agama Islam itu menentang ilmu dan menghambat lajunya teknologi, sebenarnya tidak seperti itu. Justru sebaliknya, Islam mendorong lajunya ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu pengetahuan sebagai produk akal senantiasa dapat diikuti oleh kita semua termasuk agama Islam, karena Islam memberikan tempat yang luas bagi pengembangan pemikiran manusia. Akal diperintahkan untuk bekerja dengan giat memikirkan dengan serius dan mendalam terhadap segala hal dan segala peristiwa di alam raya ini, seperti firman Allah. “Katakan olehmu (Muhammad): Perhatikanlah olehmu apa yang ada di langit dan di bumi” (QS.Yunus:101).
Penempatan akal pada posisi yang sentral mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam terutama pada abad ke-8 dan ke-13 Masehi, yang melahirkan para cendikiawan dan ilmuan muslim. Sejarah membuktikan  pada waktu itu didirikan universitas-universitas Islam di Cordoba (Spanyol), Universitas Al-Ahzar di Mesir, dan Universitas Al-Nizamiyah (Baghdad). Sehingga berkembanglah ilmu pengetahuan di dunia Islam jauh-jauh hari sebelum orang-orang Eropa mengembangkannya. Jadi tidak benar jika Islam itu menghambat lajunya perkembangan ilmu dan teknologi.
Dengan ilmu pengetahuan manusia dapat menghayati  kekuasaan Allah yang tidak terbatas, sehingga manusia dapat merasakan keterbatasan dan kelemahan dirinya di hadapan Allah. Karena itu sudah sepantasnya manusia itu menghambakan diri kepada Allah yang Maha Kuasa (sebagian tulisan itu aku kutip dari materi kuliahku untuk referensi bahwa menuntut ilmu itu memang penting).
Buat kalian-kalian yang tinggal di tempat tertinggal seperti aku jangan berkecil hati dan patah semangat untuk menuntut ilmu. Allah Maha Tahu dan keadaan yang seperti ini juga datangnya dari Allah, jadi bisa-bisanya kita saja memanfaatkan kesempatan yang ada. Sedikit apapun yang kita peroleh kalau  kita mensyukurinya insyaa Allah berkah dan jangan pelit untuk berbagi. Semakin dibagi ilmu yang kalian peroleh akan semakin bertambah, apalagi kita berada dalam situasi yang serba kekurangan.  Kita yang tinggal di pedesaan  jauhlah dari kata sejahtera bahkan banyak yang tidak tahu nama desa yang kutempati ini, betapa tidak dikenalnya tempat ini.  Terkadang aku malu, tapi bagaimana aku harus malu, karena memang tempat ini  tempat tinggalku. Tapi setidaknya jika menyebutkan dengan embel-embel sejuta hektar peninggalan Bapak Presiden Soeharto insyaa Allah masih sedikit ada yang tahu. Tidak masalah teman kita tinggal di desa terpencil tapi setidaknya kita tidak  ketinggalan  jauh dari mereka. Biar saja kita dikatakan ndeso tapi gunakan pikiran kita sama dengan orang kota. Berpikir secara bijak dan bisa memaknai betapa pentingnya perjuangan untuk mengejar suatu harapan dan impian yang sudah tertulis di benak kita sejak kecil. Kata Mas Mahendra kapten pilot Lion Air, “Wujudkan  itu dengan usaha dan niat yang kuat dari dalam diri kita sendiri bukan dari orang lain, orang tua, dan  teman. Semua itu keluar dari dalam diri kita. Tidak mungkin cita-cita dari orang lain kan, pastilah lahir dari dalam diri sendiri, kalau saya saja bisa, kenapa kamu gak?”
Aku tahu cita-citaku jadi jurnalis tidak terwujud, ya... karena itu tadi aku kurang memiliki tekad yang kuat. Jadi kamu-kamu yang masih dalam tahap untuk mewujudkan mimpi itu, ayo semangat! Masih panjang jalanmu. Bagi yang tidak mampu jangan berkecil hati, kalau punya cita-cita jadi seorang pilot lihat saja Mas Mahendra bagaimana usaha beliau untuk mewujudkan impianya. Memang tidak mudah tapi terus kejar impianmu itu dengan usaha dan jangan pernah menyerah. 
Waktu itu memang malas-malasan sekali aku masuk ke sekolah. Ya aku mengimpikan sekolah yang bisa memliki banyak teman. Bayangkan saja, baru berapa angkatan di sekolahku ini, baru ada dua angkatan pertama dan keduanya angkatanku yang jumlah siswanya cukup memprihatinkan sekali. Sedikit yang berminat, entah apa alasanya, atau mungkin alasan yang sama sepertiku yang jelas pada awal-awal masuk kerap sekali aku dan teman-temanku bolos, padahal ada gurunya, hehe. Jangan diikuti yang begini. Bukan niatan bandel si awalnya karena kalau tidak ada rasa suka gimana sih? Sulit sekali untuk memaksa suka dan menerimanya begitu saja. Jujur ketika itu aku hanya melakukan semua itu demi orang tua. Aku tetap memaksakan untuk tetap bertahan di tengah suara tetangga-tetanggaku yang menghina sekolahku. Mereka bilang begini, “Apaan sekolah pertanian, nyangkul mah tidak perlu sekolah semua juga bisa?” Makin sedih aku mendengar kalimat itu. Ada rasa marah, kecewa, terluka, dan hampir keluar ini air mata, tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk menahanya. Aku balas saja lah pernyataan itu dengan kalimat sok bijak, “Lah sekolah pertanian bukan mesti  nyangkul, dan lagi kita bisa jadi petani berdasi, kita bisa me-manage keperluan kita dalam berusaha tani. Tidak akan rugi kok!” Meskipun sedikit emosi setidaknya aku membela nama baik sekolahku. Kini statusnya telah berubah menjadi negeri dan memiliki kantor sendiri meskipun ruang belajarnya masih nebeng tuh di SLTP. Gak hanya sekolahnya yang nebeng, kepala sekolahnya pun nebeng sama kepala sekolah SLTP. Pokoknya nguat-nguatin deh waktu itu. Apalagi teman dekatku berhenti karena dia dipaksa untuk menikah. Jujur aku sedih banget, masalahnya apa-apa aku selalu sama dia. Tapi tetap saja aku harus bertahan dan berusaha menikmati itu semua meskipun perlahan teman-teman semakin habis, bahkan hanya tersisa perempuanya saja yang berjumlah lima orang. Mendingkan kalau lelaki bisa jadi pandawa lima. Tapi tetap seru, sudah seperti keluarga sendiri sama mereka, soalnya pada asyik gitu sih anaknya jadi tambah nyambung makin hari.
Kali ini sekolahku sudah memiliki tiga angkatan, lumayan rada seru lah dan perlahan aku sedikit menikmati. Aku berusaha bertahan di sini untuk menghadapi berbagai problematika yang ada. Aku bukanlah orang yang cantik juga menarik, kayak yang lain. Ciee, kok jadi curhat? Begini dari awal pun aku masuk ke sekolah itu tidak ada niatan atau bertujuan untuk mencari pacar. Pacar? Tahu kan itu loh timun yang dicincang-cincang dikasih cuka buat teman makan daging? Itu acar ya, hee... Secara, banyak ceweknya juga gimana coba mau pacar-pacaran, kan kasihan mereka yang ngarep begitu, tapi yang namanya cerita kehidupan tetap bisa buat mereka. Ada yang  macarin adik kelas, bla..bla... Kalau aku sih cukup tahu diri sajalah, lagian kalau dari awal tidak berniat untuk itu ya mana bisa, niat itu kan dari dalam hati,  mencintai itu kan dari hati. Tapi kalau sekedar kagum-kagum doang sih ya adalah ya, because i’m normal, hehe.... Dari awal aku selalu bilang maksa dan berusaha bertahan untuk berada di sekolah itu tapi semakin hari semakin kurasakan kedamaian dan kenyamanannya untuk sekolah di tempat itu. Apapun itu yang terutama adalah nyaman, jika sudah merasa nyaman pasti akan tenang dan bahagia dengan sendirinya secara perlahan. Seperti itulah yang aku rasakan pada saat itu, faktor pendukung kenyamanan pasti ada, karena teman-temanya pada asyik dari adik kelas sampai kakak kelasnya, demikian juga dengan guru-gurunya. Mereka bisa menggunakan metode belajar yang bisa membuat siswa merasa dekat dengan gurunya, terlebih menerapkan sikap saling memiliki, ya lebih kekeluargaan seperti itu. Meskipun di akhir aku bersekolah kurang begitu menyenangkan, tapi tetap akan selalu mengingat apa pun kenangan terindah yang pernah kurasakan selama aku berada di sana untuk menimba berbagai ilmu yang sudah mereka beri dengan susah payah. Alumni dari sekolahku sangat luar biasa sekali prestasinya. Aku bangga pernah bersekolah di sana.

Monday, December 14, 2015

Ingin jadi jurnalis

Ingin Jadi Jurnalis
Layaknya anak kecil yang lain aku juga punya cita-cita. Wah pokoknya paling suka kalau ditanyain soal itu. Temen-temen kalau ditanya soal cita-cita mereka menjawab beragam, ada yang ingin jadi polisi, TNI, pilot, dokter, guru, dan masih banyak lagi. Macam-macam yang aku sebutin tadi terlalu banyak yang memakai, bahkan sampai saat ini pun banyak banget bocah kalau ditanya cita-cita gak ninggalin yang namanya jadi polisi, pilot, dokter, dan guru. Entah apa karena hanya seru-seruan atau mungkin mereka tahu kalau gajinya gede, makanya mereka punya cita-cita seperti itu, atau karena pekerjaan bergengsi, memangnya anak kecil mengerti? Ah, yang jelas siapapun punya hak atas cita-cita yang ada dalam diri masing-masing, soal tercapai atau tidak itu urusan belakang yang jelas sudah bagus tuh kalau punya harapan apa lagi cita-cita seperti itu tadi, kita kan tidak ada yang tahu ke depanya jalan hidup kita, semiskin apapun kita saat ini tidak boleh putus asa. Memiliki harapan besar itu harus apa lagi sampai sungguh-sungguh kita meraihnya, itu baru TOP banget.
 Cita-citaku beda banget sama mereka, dari kecil aku pengen banget jadi orang yang bawain berita kaya yang sering aku lihat di televisi. Ketika duduk di bangku SLTP semakin kuat keinginanku menjadi seorang jurnalis di salah satu stasiun televisi yang  lumayan terkenal. Kan keren ya, itu seperti crew-crew TV yang kece-kece badai. Pokoknya aku dulu pengen banget jadi jurnalis, menurutku seru aja gitu  kita bisa ngepoin orang. Hmmm... bukan gitu juga kali ya, seru saja kerja jurnalis itu pengorbanannya luar biasa, dari dihina orang sampai dicari orang. Di samping  itu bisa juga kan nampang di TV bawain berita, wiihh... keren! Aku mau banget soalnya ada saudara gitu dulu dari Jawa yang tugas bawain berita di TVRI, terus dari situ makin kuat deh keinginan itu, tapi itulah cita-citaku  yang tidak bisa kuraih.
Kecewa sekali ketika impian kita dari kecil tidak bisa kita raih dan bahkan lewat begitu saja. Namun apapun itu sudah menjadi kehendak-Nya, tidak mungkin kita memaksa Allah sesuka hati kita. Minta boleh dengan penuh kesabaran yang disertai usaha dan niat yang kuat. Memang sih pada saat itu keadaan ekonomi keluargaku benar-benar diambang tidak aman dan memang begitulah keadaan keuangan orang tuaku, tidak stabil sehingga tidak ada sedikit jalan pun yang terbuka demi mewujudkan cita-citaku, tapi sekali lagi kita harus bisa mensyukuri apapun yang Allah sudah  kasih sama  kita. Yang kaya biar saja berjaya itu hak mereka dan kita jangan sampai kalah dengan mereka dari segi mendekatkan diri sama Allah. Memang mau, semua serba kalah di bawah mereka? Kalau bisa ketakwaan kita tetap sama dengan mereka kalau bisa lebih baik. Hanya itu kunci kita sebagai orang yang tidak mampu, jangan sampai menjauhi Allah supaya kita tetap kaya. Dijamin rugi kalau kita diuji sedikit saja marah dan  menjauhi Allah, lantas kita mau minta sama siapa? Pemerintah? Bakal lama nunggunya. Mereka saja Allah yang kasih.
Kalau kita baik sama Allah yakin deh Allah juga pasti baik sama kita. Allah gak bakal tega kalau lihat kita selalu bersimpuh, bersujud mohon ampun atas segala kesalahan, dosa yang  telah kita lakukan dan gak bosan-bosannya minta ampun setiap kita habis melakukan kesalahan. Ya wajar namanya manusia tidak lepas dari yang namanya dosa, tapi setidaknya ada upaya untuk memohon ampun serta berusaha sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Allah kan Maha Kaya, dunia ini milik Allah. Sekali pun dijauhi orang kaya kita masih punya Allah yang maha kaya.  “Jangan takut dengan  masalah besar karena kita punya Tuhan yang lebih besar”.

Saturday, December 12, 2015

Tidak lulus ujian

Tidak Lulus Ujian
“Aku lulus gak ya? Ih... aku lulus gak ya?” suara-suara centil itu menganggu pendengaranku. Mereka terlalu ramai membahas soal lulus atau gak menjelang satu bulan akan dilaksanakannya Ujian Nasional. Aku yang merasa suka les dan jarang alpa berusaha santai, masa iya gak lulus, sudah setengah mati berusaha sampai hujan badai pun tetap turun les, yah meskipun aku sangat tidak yakin untuk bisa lulus. Aku berusaha gak mempedulikan itu, yang lain les hanya dijadikan ajang ketemuan dan fashion show. Mereka suka ngobrol gitu, “Ih... baju kamu baru ya, berapa harganya?” bibirnya monyong ke sana ke mari, rasanya ingin sekali kukuncir sama gelang karet yang bau terasi biar tahu rasa. Tapi cuma sebatas ingin, mana mungkin aku berani melakukan hal itu, aku kan cemen, ide-ide cemerlang aja cuma muter di kepala doang, gak pernah berhasil terekspos. Terlihat bego dan seolah manusia telat mikir, tapi itu lah kenyataan, mulutku memang kaku seperti dikasih formalin, kalau untuk bicara seperti ada yang menghalang di tenggorokan. Makanya aku terkenal pendiam, kadang aku gak terima kalau dikatain pendiam, tapi atas dasar apa aku gak terima? Karena jarang sekali aku bicara, mungkin hanya dengan orang-orang terdekat baru bisa rame. Jadi ketika di SLTP aku bukan murid yang disayang guru seperti teman-temanku, bahkan tidak seperti saudara-saudaraku yang lain yang bisa memberikan kesan indah pada setiap jenjang yang mereka lalui, di situ aku suka merasa iri banget, lagi-lagi, kenapa aku begini?
Mereka memang gonta-ganti baju bagus ketika les, secara buat ketemuan sama pacar mereka, bakalan malu lah kalau berantakan. Ada juga yang tebar pesona dandan sedemikian rupa supaya ada yang naksir. Aku saat itu hanya berpakaian seadanya, kalau boleh dibilang culun banget, rambutku hanya kuikat biasa memakai pakaian tidur, iya baju yang suka dipakai orang-orang buat tidur seperti piama gitulah, celana kegedean, tas ransel kugendong susah payah karena aku kurus dan kecil ditambah lagi hitam, alisku yang tebal semakin jelas mengerut saat matahari menantangku, udah macam angry bird. Bagaiman caraku untuk tebar pesona seperti yang lain coba? (Pasti pada ngebayangin... hehe).
Setelah berbagai macam persiapan, tiba menemui final yakni ujian. Di mana ujian saat itu memakai sistem pemerintah yang baru, kelulusan siswa berdasarkan nilai rata-rata bukan dari jumlah total keseluruhan. Peraturan ini memang sulit meskipun nilainya  rata-rata banyak yang tinggi, tapi jika ada satu mata pelajaran yang nilainya tidak memenuhi standar, ya sudah tidak lulus dan peristiwa yang memilukan ini benar terjadi di sini. Hampir separuh lebih siswa tidak lulus karena mengalami kasus yang demikian, termasuk aku. Pada saat itu standar kelulusan pada tahun 2004 sekitar 4,25. Aku tidak lulus di mata pelajaran matematika dan bahasa inggris, di situ kurang satu saja angka di belakang koma tetap  tidak ada ampun.
Tangis kami tumpah jadi satu. Bayangkan saja, sebagian besar yang tidak lulus siswa yang rajin turun ke sekolah, rajin ketika les sore dan yang mendapat peringkat di kelas, seperti temanku itu. Dia pintar, baik, dan tampan pula, banyak sekali wanita yang jatuh cinta padanya, tapi bagaimana lagi jika itu yang Tuhan kehendaki untuk kami, apa lagi saat itu aku rajin-rajinnya puasa Senin Kamis. Nah loh, pamer kalau puasa. Sekali lagi bukan pamer, hanya ingin berbagi jika lagi rajin-rajinnya ibadah ketika dapat ujian jangan semakin drop, apalagi merasa yang dilakukan itu sia-sia seperti yang aku rasakan dulu. Aku pikir dengan begitu akan memudahkanku dalam belajar, tapi hasil yang aku peroleh tidak sesuai. Hopeless banget, ada sedikit rasa protes sama Allah. Ya Allah bukannya saya sudah berusaha semaksimal mungkin, aku sudah  puasa, belajar, tapi kenapa tetap saja aku tidak lulus, jadi sia-sia donk pengorbananku selama ini? Tuh, aku dulu mikir semua itu sia-sia karena belum tahu cara Allah menolong hamba-Nya dari mana. Ibadah yang kita lakukan jika karena Allah tidak ada yang sia-sia, Allah punya rencana sendiri di balik semua itu. Dalam hatiku ingin sekali menjerit tapi tidak kuasa, aku hanya meneteskan air mata yang tiada henti. Saling menguatkan dengan temanku yang mengalami hal yang sama, bahkan ada sedikit rasa takut untuk pulang. Aku gak doyan makan, waktuku kuhabiskan hanya buat nangis doang, break ketika sholat. Hampir saja aku mogok sholat, tapi aku masih takut kalau Allah bisa lebih marah dari ini. Sesekali aku mengintip kertas yang kuremas-remas di bawah kolong tempat tidur, kondisinya memprihatinkan, nyaris hancur seperti batinku saat itu. Kertas yang bertuliskan kalimat tidak lulus itu ingin sekali kumusnahkan, namun tidak segera kulakukan. Aku hanya bisa memandang dari balik tempat tidur dengan menjulurkan kepalaku tepat di bawah kolong yang gelap, hidupku seperti mati, gelap seperti suasana kolong tempat tidur itu, mengerikan, menyeramkan, dan menyebalkan. Mereka berusaha membujukku untuk makan tetapi aku tidak bergeming. Nasi bungkus yang kubawa masih tergeletak di meja belajarku, tidak mungkin aku membanting nasi itu karena memang dia tidak salah, dia hanya ingin aku meraihnya. Terlihat sekali dia merana sendirian di antara barisan buku yang bertumpuk di situ.
Aku berpikir ini semua akan sangat memalukan bagi keluargaku, tapi Allah punya rencana lain untuk setiap hamba-Nya. Kami saat itu melakukan ujian susulan bagi siswa-siswi yang tidak lulus, sekitar dua minggu setelah pengumuman kelulusan. Kali ini aku berserah diri saja, tidak mau memaksa Allah harus lulus seperti pada ujian awal. Namun aku yakin Allah pasti  merencanakan sesuatu yang indah untukku di kemudian hari, tidak mungkin membiarkan hamba-Nya yang masih percaya pada-Nya dan memberikan sebuah penderitaan begitu saja, sepertinya itu tidak mungkin. Setidaknya aku tetap melakukan hal yang sama, menghambakan diri pada-Nya, belajar ikhlas dalam melakukan sesuatu seperti halnya ibadah tadi, harus ikhlas karena Allah. Belajar yang  tekun setidaknya itu sudah usaha yang kulakukan pada masa itu, soal lulus atau tidak biarkan Allah yang menentukan. Ringan sekali bebanku ketika aku pasrah. Kuserahkan  segala urusanku pada-Nya, tidak akan kujadikan beban dalam hidupku, anggap saja  sebagai kelulusan yang tertunda. Setelah kejadian itu aku terus belajar untuk lebih bersabar dan berusaha menerima apapun keputusan Allah, karena aku tidak memiliki cara untuk menolaknya, karena aku hanyalah seorang hamba saja yang harus siap dengan apapun keputusan Allah.
 Selang satu bulan dari tragedi tidak lulus massal tadi, saatnya yang ditunggu tiba, yakni pengumuman kelulusan beserta pengambilan ijazah bagi siswa yang mengikuti ujian susulan. Kami berbaris di halaman sekolah, mendengarkan arahan  serta pesan-pesan dari kepala sekolahku yang gagah itu, postur tubuhnya mirip dengan  Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, hehe.
Alhamdulillah meskipun tertunda, toh aku lulus juga. Pada saat itu banyak sekali teman-temanku yang tidak ada rencana untuk melanjutkan sekolah, justru mereka  menikah di usia yang sangat muda atau mungkin memang jodohnya sudah sampai. Sedangkan aku masih bingung melanjutkan sekolah ke mana?
Semua itu memang membutuhkan proses, tidak semua jalan itu mulus dan lurus-lurus aja. Ada di mana kita menemukan tikungan, ya kita mesti belok. Ada saatnya kita menemui lampu merah dan kita harus berhenti, seperti itulah gambaran perjalanan hidup kita. Gak selalu mulus pasti yang namanya kendala itu bakalan kita hadapi. Jika kita bisa melewati pasti ada lagi rintangan-rintangan yang lebih gede. Namanya juga hidup, mana ada yang anteng tanpa dicoba, yang namanya hamba-Nya Allah mesti siap sama yang namanya cobaan, karena Allah sudah nyediain jalannya tinggal kita mau lewat jalan Allah atau lewat jalan sebelah. Karena di balik kesulitan ada kemudahan yang tersimpan di dalamnya. La tahzan innallaaha maanna, Allah bilang jangan sedih karena ada Allah bersama kita. Cobaan seberat apapun itu datangnya dari Allah, asal kita minta Allah pasti beri karena itu sudah janji Allah “Memintalah kepadaku maka Aku akan beri”. Pasti pada mbatin, nulis doang mah gampang, udah ngejalanin apa belum? Nah dari situ mari kita sama-sama berlomba, bersaing untuk menuju jalannya Allah, jalan yang diridhoi Allah, yang terpenting bagi kita adalah mendapat keridhoan Allah, insyaa Allah kalau Allah ridho bakal baik. Nah, kalau pada ingin ngerasain coba jalankan saja. Aku belum bisa menjalani apa yang aku tulis itu, tapi kalau kalian sudah, itu yang keren dan luar biasa, makin kelihat cantik dan ganteng. Yang namanya minta sama Allah mah memang kudu dan harus, minta mah sama Allah saja jelas dikasihnya, meskipun waktunya kita gak bakal tahu. Contohnya, aku minta jodoh dari umur dua puluh dua tahun tapi sampai dua puluh enam tahun belum dikasih, hehe. Yang penting terus minta aja jangan sampai mikir, sedikasihnya loh, entar Allah kasih protes lagi, hehe. Mungkin Allah lagi menyiapkan orang yang luar biasa buat aku, dia (red: calon imamku) masih diumpetin sama Allah, entar kalau udah saatnya pasti akan terjadi. Lagi-lagi kita harus sabar dan tersenyum meskipun di hati rada nyesek sih, ya belajar ikhlas. Ikhlas memang berat.... banget tapi ayook semangat ada Allah

Thursday, December 10, 2015

Antara matematika dan kakak ipar


Setelah pengumuman di tangan, kami bersiap untuk memasuki sekolah yang baru, yakni SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama), dari persiapan seragam  putih biru hingga keperluan yang lain. Rasanya bahagia sekali sudah tidak mengenakan seragam  merah putih, berasa lebih gedean gitu meskipun sebenarnya yang berubah masih terletak pada seragamnya saja. Pikiran dan badanku tetap kecil, belum ada perubahan. Di SLTP ada kakak iparku yang menjadi guru, jadi sedikit beban saja bagiku. Keadaan ini akan sangat menyulitkan bagi kami sampai-sampai di rumah pun aku memanggil bapak, meskipun sering dimarahi tetap saja sulit untuk mengubahnya.
 Harus belajar jika untuk memanggilnya kakak, serumit mata pelajaran yang ia ajarkan, apalagi kalau bukan  matematika. Jujur sih, pelajaran itu pelajaran yang paling aku tidak suka. Aku lemah di perhitungan, seperti yang sering kuucapkan ketika aku belum disekolahkan Aku takut bodoh kalau gak sekolah karena memang dasarnya aku bukan anak yang cerdas, tapi seperti yang kita tahu ya siapapun berhak menikmati pendidikan. Memang bukan hanya orang cerdas, orang-orang lemah perhitungan pun masih punya kesempatan jika ada kemauan. Mata pelajaran yang sulit bukan untuk dijauhi, ya meskipun aku tidak suka dengan matematika tapi aku tidak menjauhi. Aku berusaha mencintai tapi tetap gak bisa cinta, mungkin di samping pelajaran yang rumit aku sangat segan sekali dengan kakak iparku, jadi semakin membuat dilema. Bahkan sekali pun ada pekerjaan rumah aku tidak berani hanya sekedar datang ke rumahnya untuk menanyakan rumusnya. Lebih baik aku kerjakan di rumah sejadinya dan kalau sudah tiba di sekolah aku barter sama temanku yang lumayan cerdas gitu. Aku tidak berani sama sekali pada saat itu dan yang bikin greget kakakku itu selalu menyuruhku maju untuk mengerjakan tugas di papan tulis.
 Aku tahu  maksudnya itu baik, beliau mengajariku untuk lebih mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Karena kami sangat menjaga hubungan keluarga ini sampai-sampai banyak guru yang tidak tahu jika kami saudara, namun beberapa tetap saja ada yang tahu. Sekolah ini sangat menyenangkan, banyak sekali teman-temanku, aku sangat menyayangi mereka. Ada beberapa teman dekatku  sangat dekat dan akrab.
 Bagaimana perasaanmu jika kamu bersekolah di tempat yang sama dengan kakak iparmu mengajar, seru? Bahagia? Was-was? Kalau aku sih lebih ke was-was, ya jelas itu yang aku rasakan. Aku gak mau aja kita sudah mati-matian cari nilai sendiri entar dituduhnya kerjasama lagi atau minta nilai, kan gak jantan benget. Aku lebih percaya diri mendapatkan nilai lima dari hasilku sendiri ketimbang ngarep dikasih. Aku tahu kakakku juga, dia gak bakal ngasih nilai sembarangan bahkan tak jarang aku dapetin nilai yang gak banget karena aku memang gak suka matematika.
 Tapi setidaknya ada salah satu pelajaran yang aku senangi. Kalau sudah jamnya pelajaran geografi aku bahagia banget, hatiku berbunga-bunga. Bukan karena naksir gurunya, tapi aku hobi mempelajari negara-negara di seluruh penjuru. Entah kenapa aku favorit banget sama negara spanyol. Menurutku negara itu sangat menarik untuk dipelajari, apalagi Spanyol kan negara peradaban muslim. Tempat yang ingin kukunjungi di sana salah satunya adalah Andalusia, Cordoba. Katanya di sana ada bangunan masjid yang berubah jadi gereja, terus katanya juga masjid itu hanya dijadikan sebagai tempat wisata. Aku masih penasaran sampai saat ini meskipun aku sudah membaca di berbagai artikel mengenai negara peradaban itu. Sedih dan sampai netesin air mata. ”Enggak... Aku gak drama.” Kalau mengusut cerita tentang peradaban muslim di Spanyol memang terenyuh dan membuatku sedih pokoknya. Ditambah lagi tim favoritku, Real Madrid juga ada di Spanyol, dari Dani Pedrosa sampai Marc Marques, loh kok lari ke GP?
Oke, balik lagi ke Geografi. Di samping materi-materi yang tersaji sangat menarik, aku suka gurunya juga soalnya gak galak jadi ngalir aja dan bisa untuk diterima. Apa lagi saat memasuki bab tentang sejarah kepemimpinan Nelson Mandela. Berjuang untuk si kulit hitam, manusia yang luar biasa, menurutku Pak Nelson keren banget. Berkat beliau kulit hitam bisa dihargai. Gak seperti aku, kulit hitam yang cemen yang bisanya dikalahin doang, yang bisanya dijadiin tempat sampah sama temen-temennya, dihina-hina kerana kehitamannya, cuma bisa mewek sambil putus asa. “Kenapa aku hitam?”  
 Di saat yang lain asik dengan berbagai kisah cintanya, aku masih tetap jadi anak yang polos, iya mereka sering bilang gitu. Tapi anehnya aku dulu justru sakit hati dan nyesek banget waktu dikatain polos. Bayangkan saja kain atau kertas yang polos kan tidak ada warnanya, kurang cantik kan... Seolah mereka itu meledekku bahwa hidupku tidak berwarna, tidak cantik, tidak indah, lebih mengarah ke cupu alias culun punya, bahasa kerenya sih katanya begitu. Karena seringnya diledekin cupu dulu kalau lagi di rumah, aku suka ngadep ke cermin, lama-lama seabari kusenyum-senyumkan bibirku, aku manyun-manyunkan berulang kali hingga manyun beneran.
 “Sebegitu jeleknya kah diriku?” Aku ngomong sama cermin, alhasil cerminnya rada eneg juga dipantengin lama-lama sama aku. Bosen dia, masa iya tiap boring curhatnya ke cermin. Tapi tetap berusaha semangat ceritanya, bagaiamana pun juga kita kan harus mensyukuri yang namanya pemberian dari Allah. Allah itu kasih tanpa kita minta loh, bayangkan saja betapa Maha Pemurahnya Allah. Coba kalau kita beli berapa harga oksigen yang harus kita bayar, bangkrut-bangkrut deh. Sekali pun orang kaya gak bakal bisa bayar. Tinggal mensyukuri saja terkadang kita susahnya minta ampun, masih saja protes. Iya aku tahu karena aku sendiri suka begitu, hayooo, jujur saja akui perbuatanmu nak... hehe. Kita harusnya terima kasih sama Allah, bukannya Allah diprotes melulu. Allah yang tahu kemampuan kita kok, jadi yang dikasih untuk kita ya sesuai kemampuan kita juga, so mari bersyukur.
     

Tuesday, December 8, 2015

Ujian Sakit



Ketika itu kami melakukan apel Senin, terdapat suatu keanehan ketika petugas bendera mengikatkan bendera, tiba-tiba bendera itu terbang dengan sangat kencang hingga terjatuh. Kami semua bingung terutama guru-guru yang ada dalam upacara saat itu. Setelah upacara selesai kepala sekolah menegur petugas supaya lebih hati-hati. Selang sehari dari kejadian itu kami mendengar kabar bahwa Bapak Soeharto lengser.  Mungkin kejadian itu sedikit pertanda, tapi aku juga tidak bisa memastikan karena hanya opini dari kami saja. Sekali lagi hanya opini loh ya... kita-kita yang di sini saat itu nebak-nebak gak jelas gitu dari kejadian tersebut.
Belum aku menyaksikan secara langsung, eh bapak presiden sudah lengser. Mungkin bukan nasib baik kami, baru saja jadi warga sini sudah tidak bisa merasakan enaknya seperti orang-orang yang lebih dulu. Tapi kan tidak mutlak, karena itu hidup kan terus berjalan jadi tetap jalani lah apa yang sudah ada. Kalau lagi ngomongin soal keinginan, inget sekali saat itu aku hobi banget nonton kartun kapur ajaib, itu yang tokoh utamanya Rudy Tabuti. Kebayang kan kalau hidup kita itu seperti hidupnya  Rudy. Mau apa saja tinggal digambar apa maunya kita pakai kapur ajaib. Keren kan kalau kita bisa gitu? Tapi apa iya kita mau jadi kartun? Ya... gak lah. Kita manusia ya manusia saja jangan sampai berpikir seperti Rudy ya, memang sih itu kapur dijual di toko-toko terdekat paling banter buat ngilangin kutu sama semut dan sejenisnya.
Kurang lebih empat tahun sudah aku tinggal di sini dengan berbagai kenangan yang tidak bisa dilupakan. Banyak deh pokonya dan aku sangat ingat sekali suka-dukaku  hidup di zamanku, sedih deh pokoknya kalau ingat, soalnya hidupnya anak sekarang itu sudah beda banget sama zamanku pada saat itu. Hemmm, sok yess nih ceritanya. Aku dan teman-temanku menghabiskan masa remaja muda kami lebih banyak di permainan tradisional yang sudah jarang kutemukan sekarang, bahkan dari jenis jajanan juga sudah  beda  lahh.  Hobi kami saat itu jika setelah mengaji kami menonton  televisi  ke tempat tetangga yang sedikit berada, seperti nonton di bioskop gitu, nontonnya rame-rame. Pada saat itu lagi booming-nya serial Jin & Jun, Jini Oh Jini, dan lain-lain. Kalau mandarin booming banget serialnya F4 yang sampai sekarang pun terkadang masih ditayangin tuh di salah satu stasiun televisi swasta. Sampai segala macam keperluan sekolah pun berbau  F4 deh  pokoknya, seru abis itu.
Kalau pulang kami saling mengejek dan saling kejar, seolah hidup tidak ada beban. Sehabis sekolah kami bermain di sungai untuk berenang tanpa pelampung sekali pun dengan berbagai gaya, gaya udang rebus, nila tergelincir, sampai gaya ikan mas koi kedip-kedip. Sama yang namanya kelelep itu sudah makanan hari-hari sampai kulit kita-kita hitam dan  bisa digambarin. Nah sekarang sudah kejawab kenapa aku hitam begini, ya karena suka berenang di sungai. Percaya gak percaya sih, tapi mungkin memang itulah penyebab dari tragedi kulit hitam yang melekat erat di dalam diriku.
Ujian akan segera tiba tapi aku justru terkena penyakit cacar air. Badanku  menguning dan dipenuhi cacar, menjijikkan sekali. Seketika aku menjerit saat terbangun dari tidur, seakan tidak percaya melihat tubuhku penuh oleh cacar. Aku menangis sejadi-jadinya, tidak peduli air mataku bakalan terkuras gara-gara nangisin cacar. Berbagai macam obat diberikan mereka untukku, hingga cacar itu total keluar, dari obat medis sampai nyolong jagung tetangga. Sedikit kriminal ya, tapi lucunya ketika ayah mau memetik jagung tetangga yang katanya disuruh nyolong itu, justru janjian lebih dulu. Siapa yang dibohongi  coba, sebenarnya bingung juga. Satu rumah hanya aku yang terkena. Alhamdulillah sih, jadi mereka bisa fokus ngurusin aku. Saat ujian  sekolah pun aku masih sakit. Dengan menahan rasa sakit, aku dibonceng ayah untuk pergi  ke sekolah dengan sepeda butut ayah yang sedikit berbunyi. Ketika tiba di sekolah ada beberapa teman yang  prihatin tapi tetap saja ada yang tega mengejek. Aku ingin menangis rasanya ketika mereka mengejekku. Aku tak berdaya di samping menahan  rasa sakit di tubuhku, aku juga mersakan sakit hati, masih saja tega mereka mengejek orang sakit. Tapi alhamdulillah ujian sekolah bisa kulalui meskipun, aku dalam keadaan sakit dan  alhamdulillah-nya lagi ketika Ujian Nasional aku sudah sehat dan sedikit fokus untuk mengerjakan soal. Detik-detik menunggu pengumuman kelulusan kami berfoto untuk ijazah ke kecamatan Mantangai bersama wali kelas menggunakan  kelotok. Di sini masih kurang  mendukung pada saat itu,  jadi jauh-jauh ke kecamatan hanya untuk berfoto. Itulah nikmatnya perjalanan hidup yang serba tidak ada, jadi kita merasa puas dengan apa yang kita lakukan dan lebih mensyukurinya. Hidup ini bukan tanpa perjuangan dan kesabaran, kedua hal tersebut saling mengisi untuk menjalani hidup yang akan terus berjalan.
Allah menciptakan kita bukan tanpa alasan dan juga tidak ada yang sia-sia, masing-masing kita sudah memiliki peranan untuk dijalani. Kita ingin hidup kita lebih baik? Pastinya kita berusaha sungguh-sungguh untuk mengubahnya. “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan  sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; Dan sekali-kali tidak ada pelindung manusia selain Dia.” (QS. A-Ra’ad: 11).
Allah maha tahu, Allah tahu usaha kita, Allah tahu niat baik kita, tidak ada yang luput dari pandangan-Nya. Sekali pun Allah menguji kita dengan keburukan pasti Allah akan menolong kita dengan kebaikan yang Allah miliki. Positive thinking sama Allah saja and keep smile. Lakukan segala sesuatu dengan lillaahita’ala, semua karena Allah supaya bernilai ibadah apapun itu, yang pasti ya bukan melakukan kejahatan ya. Hal sepele yang paling kecil pun jika kita niatkan karena Allah, insyaa Allah bernilai ibadah. Orang kerja gak salah, orang kuliah gak salah, dan masih banyak lagi, gak ada yang salah, insyaa Allah tidak ada yang sia-sia semua itu jika kita lakukan karena Allah, niatkan lillaahita’ala.
Have to choose, kita punya pilihan antara yang baik sama yang buruk, tinggal kita pilih yang mana. Kata bang Raditya Dika namanya juga hidup. Tuhan yang nentuin, kita yang jalanin, orang lain yang ngomentarin. Hehe... memang begitu, kan?

Sunday, December 6, 2015

The best Enemy

Semakin lama semakin banyak sekali temanku. Mereka ada yang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan masih banyak lagi, berbagai macam suku seperti lirik lagunya Project Pop. Di sinilah berkumpulnya bermacam-macam suku, mau suku apa saja ada. Udah persis taman mini, bedanya di sini manusianya bukan rumah adatnya. Temanku Dini dan Yanti tidak sedekat dulu lagi, bahkan Dini pindah dari sini. Aku memang memiliki teman baru, tapi aku tetap sulit melupakan keseruan yang pernah kujalani bersama Dini dan Yanti. Teman baruku suka banget berantem. Mereka suka banget memusuhiku tanpa sebab, terkadang hanya gara-gara saling tulis nama yang dijodoh-jodohin terus di antara kedua nama itu dilingkari love (bentuk hati), padahal mudeng juga gak love itu apaan, yang jelas saling ejek aja gitu misal begini “Chica dan Wahyu”, terus digambar love di pinggirnya, kalau sudah gini wah siap-siap perang ke tahap selanjutnya. Padahal aku gak berani banget buat ikutan nulis-nulis itu, eh namaku yang suka ditulis di papan gede banget. Mending kalau yang dijodoh-jodohin itu cakep, lah ini kadang yang gak banget gitu, jadi pengen nangis tahu gak merasa terhina banget, padahal cuma ditulis gitu doang. Tapi meskipun begitu ya namanya anak-anak tetap saja setelah itu berteman meskipun terkadang mereka keterlaluan. Masa iya bukan aku yang melakukan, main labrak sembarangan, katanya aku nulisin nama dia dengan teman cowok kami juga di buku, terus buku beserta tulisan itu disodorkan ke aku, jelas-jelas itu bukan tulisanku. Sambil menahan tangis aku berusaha menampik meskipun suaraku tidak didengar, gayaku saat itu persis banget sama anak yang terlantar dimarahi ibu kos karena gak bisa bayar. Aku dibentak-bentak, ya nangislah. Entah kenapa memang nasib atau takdir. Sebenarnya sih sakit hati, tapi bukannya sabar itu lebih baik? Jadi aku mencoba bersabar meskipun mereka memusuhiku. Karena di antara orang-orang yang jahat masih ada orang yang baik, begitu pun sebaliknya. Jadi sesakit apapun hati ini tetap saja berusaha kuterima apalagi kalau sampai ibuku tahu, justru aku yang dimarahi, aneh ya? Mungkin kita berpikir aneh, gimana gak aneh, yang anaknya siapa yang dimarahi siapa? Gondok sih sempat berpikir kenapa ibuku lebih sayang sama anak tetangga? Sudah anaknya dimusuhi dimarahi pula, coba bagaimana gak sedih, di mana tempat mengadu? Mungkin kalau anak sekarang sudah nampang status di FB, Twitt, BB dan kawan-kawan dengan judul “anakmu bukan anakmu, mereka adalah putra sang fajar”. Status ngambek kan ceritanya, janganlah ya. Ternyata tujuan ibu seperti  itu mengajari kita untuk bersikap bijak dan memiliki sikap tanggung jawab terhadap apa yang  kita perbuat, maksudnya gak cemen, gak cuma bisa ngumpet di ketek mama, kan  tengsin. Meskipun ibu tahu kita gak salah tapi ibu memberi tahu secara pelan-pelan supaya kita anak-anaknya bisa menerima dan mengerti. Memang tegas sih ibu, apalagi masalah  ibadah, adehhhh... bawel. Tapi balik lagi semua itu dilakukan untuk kita.  Dengan begitu kita tahu bahwa bermusuhan itu gak baik. Ibuku selalu mengajari dan membekali sifat sabar, dan kita tidak boleh memusuhi orang dalam keadaan apapun. Kata ibuku, tidak ada yang bisa mengalahkan kesabaran, yuksss jadi orang sabar. Nih seperti penggalan ayat al Qur’an surah Ar-rad ayat 24 “(sambil mengucapkan) selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu... maka alangkah nikmatnya sesudah itu”.  Intinya sabar itu indah lah bagi siapa saja yang mau bersabar.
Ada kejadian lagi. Saat itu siang bolong, saat matahari benar-benar di atas kepala, sinarnya menyirami seluruh tubuh mungil kami. Terasa menyengat hingga butiran keringat berjatuhan, namun tidak membuat kami mengurungkan niat untuk bermain. Aku dan beberapa temanku bermain di sekitar pabrik tahu tetanggaku, tak ketinggalan adikku pun ikut serta bersamaku. Kami berlomba mengumpulkan botol cuka yang terlantar di sekitar pabrik, jelas mereka lebih banyak dapatnya ketimbang aku.
“Itu banyak kok gak kalian ambil?” tanyaku polos saat melihat botol cuka itu berserakan.
“Gak ah buat kamu saja, kami sudah banyak kok,” mereka serempak menjawab sambil saling senyum. Aku langsung memburu botol itu diikuti oleh adikku di belakang, berjalan berseok sembari tertatih, sedangkan aku semakin mempercepat langkahku tanpa berpikir panjang lagi, yang ada dalam pikiranku hanyalah mereka baik banget masih menyisakan boto-botol itu untukku. Kakiku terus melangkah hingga memijak tanah yang berwarna putih kecoklatan, alhasil kakiku terendam hingga ke lutut. Aroma bau pun terus tercium seiring kakiku melangkah, ternyata itu adalah ampas tahu, bahasa kerenya sampah lah. Mereka puas terbahak-bahak menertawakanku yang semakin terlihat oneng. Aku sedih saat melihat wajah polos adikku yang juga ikut terjebak di dalam rencana jahat mereka. Adikku berada tepat di belakangku karena dia terus mengikutiku, begonya lagi masih aja aku ikutan main sama mereka itu tanpa berpikir kejahatan yang mereka perbuat. Bukan berati gak bisa melakukan apa-apa, tapi ya gak mau saja sih memperpanjang dan memperkeruh keadaan. Mungkin lebih tepatnya aku itu penakut, di samping males berantem. Di sisi lain Aku ada rasa takut jika teman-temanku itu tiba-tiba memusuhiku lagi seperti yang sudah-sudah, dan dia itu ngumpulin teman sebanyak-banyaknya untuk memerangiku. Wow, perang? Iya, kebayang kan  nyaliku ketika itu sampai-sampai adikku sendiri dihasut untuk ikut sama mereka. Anak kecil, tapi itu sangat menyakitkan juga bagi anak kecil. Mikirnya gak bisa berbuat apa-apa kalau tidak ditemani, sedikit tertekan sih dengan keadaan  itu. Aku gak mau cerita sama orang tuaku, ya itu tadi aku yang bakal dimarahi apalagi aku membiarkan adikku  ikut bersama mereka untuk memusuhiku. Aku benar-benar tidak ditegur dan ditinggalkan ketika pulang sekolah, aku sendirian, yang bikin sampai sekarang sedih adalah di saat keluargaku salah paham. Mereka pikir aku yang meninggalkan adikku dan ikut bersama mereka untuk memusuhi adikku. Sakit rasanya tapi aku sulit menjelaskan itu semua.  Mereka seolah  tidak percaya dengan ceritaku. Banyak hal yang tidak kuketahui sebabnya, tiba-tiba satu kelas teman perempuanku menjauhiku. Aku hanya diam dan tidak tahu apa yang harus kuperbuat?
Kembali lagi sabar aja, tapi tidak salah juga kalau mau nangis, yang  kulakukan saat itu juga menangis, apa lagi di pikiran anak kecil saat itu. Tapi tetap sabar gak usah dilawan dan pada akhirnya mereka sendiri yang datang pada kita untuk menegur kita lagi. Jelas bahagia sekali rasanya jika kita tidak saling bermusuhan.
Kata Rasulullah kan batas tidak berteguran itu tiga hari, jadi kalau ada yang lagi berantem jangan lama-lama gak teguranya. Eh gak usah berantem-berantem kali yaa... Lebih indah kalau kita saling menyayangi. Ya memang tidak menutup kemungkinan kesalahpahaman itu pasti terjadi, tapi bagaimana kita menyelesaikan itu semua supaya tidak terjadi konflik yang berat. Terkadang masalah yang sepele saja memang bisa menjadi penyebab tumpah darah loh, jadi  lebih hati-hati saja, be carefull guys. Apalagi kalau usia masih sangat dini seperti yang aku ceritain, rentan juga terkadang bisa menimbulkan tekanan sendiri bagi yang dimusuhi, istilah kerenya bully. Bisa bikin gak betah sekolah loh! Sempat dulu aku mikir begitu, tapi dengan dorongan keluarga, orang tua yang penuh pengawasan di sekitar kita insyaa Allah yang namanya tekanan dari sekolah tidak begitu menjadi masalah. Hati-hati juga terkadang permusuhan si anak bisa merembet pada orang tua dan yang lucunya itu si anak sudah berteman tapi orang tuanya masih sewot-sewotan, jangan ya....
Itulah, yang namanya bermusuhan adalah hal yang paling aku tidak suka sebenarnya. Akan kujadikan musuh terbaik siapapun yang memusuhiku, karena dengan begitu akan membentuk karakter dan kepribadian yang sedikit sabar meskipun itu tidak gampang. Marah sih iya lah pastinya, tapi belajar perlahan untuk menguranginya. Kalau aku cenderung takut sih kalau dimusuhi, apalagi pada saat anak-anak, hemm... takut gak ditemani soalnya. Jadi takut, ditambah memang tidak bisa melawan, ya sudah mereka merasa menjadi pemenangnya gitulah pokonya.       

Monday, November 30, 2015

Sejuta Hektar eks PLG


“Kamu kenapa menangis?” Ibu mendekat sembari mengusap kepalaku dengan lembut, penuh kasih sayang. Di situlah kami bisa merasakan kasih sayang yang tulus dari seorang ibu. Percaya deh, kasih sayang pacar itu tidak ada apa-apanya. Kali ah, aku juga gak tahu masalahnya, gak pengalaman pacaran, ketahuan deh. Tapi serius, tidak ada yang bisa menggantikan kasih sayang ibu, karena ibu adalah segalanya. Ibu rela melakukan apapun demi anak-anaknya, ibu berusaha menyayangi dengan adil kedelapan putra-putrinya, tapi tetap, tuduhan tidak adil itu masih sering kulontarkan, meskipun aku sebenarnya tahu kalau ibu tetap berusaha adil. Aku memiliki empat orang kakak dan tiga orang adik yang sangat kusayangi, berbagai macam rintangan kami lewati bersama.
“Ibu, katanya kalau gak sekolah bisa bodoh, ya? Aku gak mau bodoh, Bu.” Aku terus merengek, yang aku tahu saat itu jika tidak mau sekolah nanti jadi orang yang bodoh. Aku tidak memikirkan hal lain, saat itu yang ada di dalam benak adalah ingin sekolah. Aku belum tahu sebetulnya manfaat dari bersekolah itu apa. Ibu tak menjawab, hanya menggeleng sembari tersenyum.
Saat berusia sekitar delapan tahun, saatnya aku masuk kelas tiga sekolah dasar, namun sudah hampir satu bulan kami di sini belum juga mereka mendaftarkan ke sekolah yang baru lantaran belum ada surat pindah dari sekolah yang lama. Namun setelah melewati berbagai rintangan akhirnya bisa bersekolah seperti biasa. Meskipun kurang lebih satu bulan harus bolos, tapi tetap tidak mengurangi semangat. Kami masih diantar ibu, ya maklum, ibu sangat menyayangi anak-anaknya, jadi mana mungkin setega itu melepas anaknya pergi ke sekolah sendirian, sedangkan kami semua belum tahu seperti apa situasi dan kondisi di sekolah yang baru. Kurang lebih satu minggu ibu mengantarkan kami, kemudian di hari-hari selanjutnya aku ke sekolah dengan teman-teman baru. Mereka adalah Dini dan Yanti. Aku menghabiskan waktu bermainku bersama dengan mereka berdua, mereka selalu menjemputku ketika kami mau pergi ke sekolah. Kami bertiga berjalan kaki menuju sekolah yang berjarak kurang lebih tiga kilometer. Lumayan jauh, tapi tidak terasa karena kami berjalan sambil bermain. Bahagia sekali mendapat teman baru. Mereka baik, aku jarang berantem sama mereka. Suatu ketika saat pulang sekolah, hujan turun begitu deras sehingga kami semua basah-basahan, bahkan kami singgah tuh di sungai kecil galian. Bukan sungai alam sihm cuma airnya sangat jernih sekali sampai bisa buat ngaca. Kami juga selfi-selfi bareng sambil monyong-monyongin bibir ke arah sungai yang jernih itu, sehingga anak-anak usia segitu pasti tergoda untuk nyebur apalagi bareng teman-teman. Saat itu belum banyak yang dipikir, boro-boro mikir dunia, yang ada hidup itu indah, beda banget sama sekarang kebanyakan yang dipikirin.
“Kenapa basah kuyup gitu nak?” tanya ibu sedikit bingung, masalahnya di sekitar rumahku hanya hujan rintik-rintik saja, wajar ibu curiga, yang namanya orang tua gak akan tega membiarkan anaknya dalam bentuk apapun, saat keadaan marah sekali pun.
“Hujan Bu,” aku berusaha menjawab sembari senyum-senyum takut.
“Beneran hujan?” tanya ibu masih tidak percaya.
“Iya Bu... iya...  tadi nyebur di sungai kecil sana.” Aku menunjuk ke arah di mana sungai itu berada. Padahal kan memang hujan tapi di sisi lain memang nyebur juga, ya sudah itulah jawabanku. Tapi yang bikin aku bingung, tak sedikit pun ibu memarahi, justru ibu tersenyum menatap tingkahku. Dari situ aku mencoba memahami bagaimana usaha orang tua untuk menyenangkan hati anaknya. Setelah perbincangan panjang tadi aku berlari menuju kamar mandi yang berada di sudut luar rumah kami yang terlihat sangat mungil beralaskan papan dan berdinding kayu seadanya terbuat tanpa atap.
Apapun keadaanya jika disyukuri akan menjadi luar biasa dan itu bukan hanya bisa diucapkan karena memang udah kebukti kok, karena aku rasain hal itu. Aku berusaha menerima apapun yang orang tua berikan pada kami meskipun masing-masing kami memiliki keinginan terpendam. Jelas aku banyak punya keinginan yang tidak bisa kuraih saat itu, banyak hal yang terlewatkan dengan sia-sia atau mungkin memang bukan hakku, jadi aku tidak bisa mencapai target harapanku yang sudah tersusun di dalam daftar keinginan tersebut.
Aku memaksa dan berusaha memahami saat orang tua memutuskan untuk pergi ke Desa Sejuta Hektar PLG, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Kawasan yang dibangun ketika kepemimpinan Bapak Presiden Republik Indonesia Bapak Soeharto kala itu. Kawasan yang sangat diminati oleh berbagai kalangan untuk mencari penghasilan dan mengubah nasib di sini. Bagimana tidak, Bapak Presiden mengunjungi secara langsung tempat ini. Itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi masyarakat yang tinggal di kawasan ini pada masa itu. Kerap sekali tempat ini masuk televisi sehingga kedua orang tuaku sangat berminat untuk pindah ke kawasan ini, dan akhirnya pada tahun 1998 kami semua pindah dari tempat tinggal asal. Ya meskipun kurang lebih saja keadaanya karena masih dalam lingkup kabupaten yang sama. Mungkin mereka berpikir tempat ini akan selamanya seperti kala ditayangkan di televisi, sangat makmur dan sejahtera karena tidak ada pengangguran, banyak sekali lapangan pekerjaan di sini saat itu. Tapi yang terjadi tak seindah yang kami bayangkan. Kami mengalami masa transisi di mana masa itu sangat pahit untuk kami jalani. Kondisi pekerjaan orang tua semakin berantakan. Di tempat semula hanya melanjutkan tapi di tempat baru harus memulai segalanya dari nol, meskipun pekerjaan serabutan tapi tetap tidak sama jika harus memulai dari awal.
Boleh saja kita memilih jalan hidup dengan cara kita tetapi yang menentukan jalanya tetap Allah SWT. Maunya kita pasti yang baik-baik, tidak ada di antara kita tidak mau hal yang baik pasti semua memburu sesuatu yang baik, tapi untuk mewujudkan semua itu tidak gampang dan kebaikan yang kita inginkan belum tentu bisa kita dapatkan dengan  mudah. Alternatifnya ya sabar dan mencoba mensyukuri apa saja yang sudah kita terima, meskipun tidak  mungkin kita secepat itu bersyukur karena kita ini memang sulit untuk mengatakan itu. Segala sesuatu yang terwujud indah melalui proses dan tahapan yang mungkin itu menyedihkan bagi kita. Boleh saja kita tidak mampu memikul beban hidup yang membuat kita hanya bisa nelen ludah dan gak bisa berbuat banyak karena terhimpit keadaan yang memang mesti kita hadapi, tapi jangan lupa kita punya Allah yang siap nolong kita kapan pun dan itu pun  gak ekstra. Karena Allah suka lihat usaha kita. Kita minta sungguh-sungguh dan tidak meragukan kemampuan Allah. Memangnya ada ya yang meragukan Allah? Masa sih Allah sehebat itu masih ada yang meragukan? Ah, banyaklah termasuk saya sendiri. Begini loh, bukan bermaksud ragu sama Allah, tapi kita sendiri tidak yakin dengan apa yang kita minta  sama Allah. Misalkan begini kira-kira, Allah langsung mengabulkan permintaanku  gak ya? Nah, dari situ saja sudah kebaca bagaimana gak yakinnya kita sama Allah. Minta itu jangan ragu, madep mantep sama Allah seperti kata ibu saat menasehatiku, insyaa Allah, Allah bakal kasih entah  itu kapan dan di mana sesuai dengan kebutuhan kita, pasti di waktu yang tepat. Ingat, Allah memberi sesuai dengan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Tapi tetep kita masih sulit buat yakin sama Allah, kita suka gak percaya sama Allah. 
Seperti saat ada yang menyakiti kita pasti ada yang kasih nasehat gini, “Biar Allah yang membalas”. Terus tanpa disadari kita nyeletuk, “Nunggu Allah  mah  lama.” Nah, ada yang  balik nanya lagi, “Lah kalau gak Allah siapa?” Kita sendiri gak punya jawaban ketika ditanya begitu. Ya tetap saja Allah termasuk dengan harta yang kita miliki, susah senang hidup kita tidak lepas dari izin Allah. Intinya miskinnya kita, kayanya kita, sudah diatur sama Allah. “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Ia kehendaki) mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia hanyalah kesenangan (yang sedikit) dibanding kehidupan akhirat” (QS. AR-RAD: 26). Jadi kita syukuri saja apapun yang sudah Allah kasih, dan tujuan kita diciptakan hanyalah untuk menghambakan diri kepada Allah. Akhirat kan lebih kekal daripada dunia, sabar dan nikmati saja  hidup ini dengan terus mendekatkan diri pada Allah. Insyaa Allah ada jalan, seperti lagunya Maher Zain. #sabar_is_the_best