Wednesday, December 21, 2016

Devinisi kafir menurut islam

Mengapa Muslim melecehkan non-Muslim dengan memanggil mereka kafir?
Jawaban:
1. Kafir berarti orang yang menolak.
'Kafir' berasal dari kata 'kufur', yang berarti menyembunyikan atau menolak. Dalamistilah Islam, 'Kafir' berarti orang yang menyembunyikan atau menolak kebenaran Islam dan orang yang menolak Islam. Dalam bahasa Indonesianya, orang-orang yang menolak Islam disebut 'non-Muslim.' Jadi ketika seorang Muslim menyebut mereka dengan istilah ‘kafir’, ini bukan bermaksud melecehkan, melainkan sebutan ‘kafir’ ini sama dengan menyebut mereka ‘non-Muslim.’
2. Jika ada non-Muslim yang merasa dilecehkan karena disebut kafir, maka mereka harus menerima Islam.
Jika ada non-Muslim yang menganggap kata 'kafir' (non-Muslim) sebagai pelecehan, ia dapat memilih untuk masuk Islam, maka umat Muslim akan berhenti menyebut dirinya sebagai kafir atau non-Muslim.
Kenapa Harus Marah Disebut Kafir?
Misalnya kulit kamu putih mulus bersih berseri. Lalu ada orang yang mengejek, “Hei, hitam pekat! Kamu ini orang atau arang!”
Apakah kamu marah? Pasti tidak. Karena kamu tidak merasa hitam seperti arang.
Lantas sebaliknya, kulit kamu memang hitam pekat seperti arang. Lalu ada orang yang mengejek, “Hei, arang. Boleh dong gue pake kamu untuk bakar sate?”
Apakah kamu marah?
Pasti ada rasa marah, tersingung atau sakit hati, walau dalam skala yang paling kecil sekalipun.
Kenapa? Karena kamu merasa diejek, kekurangan atau aib kamu diungkit dan dijadikan bahan ledekan.
* * *
Mari gunakan logika yang sama untuk istilah KAFIR.
Banyak sekali teman nonmuslim yang marah atau protes ketika disebut kafir. Padahal istilah “kafir” itu hanya soal status. Sama seperti ucapan “SBY orang Jawa” atau “Ahok Orang China” atau “Obama Orang Amerika”. Itu hanya status. Tak lebih dan tak kurang.
Kafir adalah mereka yang tidak menyembah Allah SWT dan tidak percaya Muhammad sebagai Rasulullah. Hanya sesederhana itu. Just that simple.
(Karena hanya soal status, maka TAK PERLU dikaitkan dengan masalah moral). Misalnya “Lebih baik kafir tapi bersih daripada muslim tapi korupsi.” Siapapun bisa jadi koruptor, tidak peduli apapun statusnya, apapun agamanya.
Status kafir TAK ADA KAITAN LANGSUNG dengan moral. Saya punya teman yang nonmuslim atau kafir, tapi pribadi mereka sungguh terpuji. Jadi tak perlu mengaitkan status kafir dengan moral. Sebab bisa jadi sangat rancu.
Saat menyebut seseorang sebagai kafir, itu BUKAN tuduhan yang berbau vonis bahwa anda tidak bermoral, anda bejat, dan seterusnya. Sekali lagi, ini hanya soal status.
Setiap status tentu berkaitan dengan hak dan kewajiban tertentu. Misalnya saat kita bertemu teman sesama Muslim, ada perintah untuk mengucapkan “Assalamualaikum….”. Tapi untuk teman nonmuslim, perintah seperti itu tentu tak ada.
Dalam konteks yang lebih besar seperti negara, tentu hak dan kewajibannya lebih besar pula. Misalnya jika di sebuah negara diterapkan hukum Islam, maka yang muslim wajib menyetor zakat kepada negara, sedangkan yang kafir tak perlu. Karena zakat hanya untuk kaum muslim.
Jika KAFIR hanya soal status, kenapa banyak orang yang marah disebut kafir?
Jika dikaitkan dengan logika dan contoh cerita pada bagian awal tulisan ini, maka sebenarnya secara PSIKOLOGIS ini bisa dipahami dengan sangat mudah:
Seseorang marah atau tersinggung disebut kafir, karena di lubuk hatinya yang terdalam terdapat PENGAKUAN TULUS bahwa menjadi kafir itu tidak baik. Yang baik adalah menjadi Muslim.
Jika Anda yakin akan kebenaran agama Anda, jika Anda yakin agama Anda baik, tentu tak perlu marah atau tersinggung disebut kafir, bukan?
Coba lihat bagaimana sikap kami umat Islam terhadap ajaran agama lain:
Pada ajaran Kristen, semua yang tidak menerima Yesus sebagai tuhan disebut “domba yang tersesat”.
Umat Islam tentu tidak mengakui Yesus sebagai tuhan. Karena itu, pasti kita yang Muslim termasuk golongan “domba yang tersesat” (versi mereka) tersebut.
Namun apakah kita umat Islam selama ini pernah marah atau tersinggung disebut “domba yang tersesat”?
TAK PERNAH SEKALIPUN. Karena kita yakin akan kebenaran Islam.
Karena yakin benar, maka sebodoh amat dengan semua julukan dari agama lain untuk kita. Emang gue pikirin. Terserah mereka menyebut kita apa saja. Itu tak akan berpengaruh apapun terhadap keyakinan kita.
Betul?
Jadi jika Anda tak suka disebut kafir, cara mengatasinya gampang saja. Silahkan masuk Islam. Just that simple

Copas by:  Lukmanul hakim (facebook )

Tuesday, December 20, 2016

Balada stalking

Hobby stalker, capture chat :D udah kaya ABG aja, udah gitu di smpen takutnya ntar di apus obrolanya. Cuma buat liat2tan aja sih sebenarnya, spesial bgt tapi gak pernah nyadar apakah yang di maksud tahu atau mengerti.... asik aja sendiri, kl lg dateng jealousnya mewek. Coba kaya gini di bikin sendiri kan? Gak ada yang suruh tapi tetap gak mau nyerah rutinitas untuk mencari info kabar terbaru tentang si doi udah macem wartawan yang takut ketinggalan berita. Di pikir doi gak ngerti2 amat, padahal sih sebenernya tahu cuma pura-pura gak tahu, lah iya.... karena doi gak pernah respect. Pedihhhh :D

Friday, December 9, 2016

Saat nanti aku tiada


Aku manusia penuh mimpi,, dari kecilpun banyak sekali impianku. Sekalipun terkadang sadar aku ini siapa bahkan mimpi-mimpiku tidak senada dengan keadaanku. Aku memang miskin tapi ibuku selalu bilang. Kita memang miskin tapi jangan sampai kita miskin iman... aku selalu ingat  kalimat itu kemanapun aku pergi. Tetap saja keadaan tidak membuat imajinasiku berhenti

bermain dengan mimpi2 itu. Banyak sekali mimpiku namun lewat begitu saja, tapi Allah Kasih sebagian dari mimpiku dari jalan yang berbeda. Saat kecil ingin jadi jurnalis tapi aku bekerja di bidang penyuluh pertanian yang kerjanya itu gak lepas dari SDM yah gak jauh lah tetap aku bersyukur. Lain lagi ketika aku sudah bertambah dewasa aku punya harapan dimna jika nanti aku menikah dan punya anak ingin sekali memberikan nama Muhammad Al fatih jika lelaki... inilah sebagian dari mimpiku, namun Allah masih blm berkenan, aku belum tahu siapa jodohku,, jikapun malaikat maut meminangku lebih dulu... aku pernah menuliskan sebagian dari mimpiku disini agar kalian tahu jika akupun ingin seperti kalian menggenapkan sebagian iman, lalu apa daya aku  tidak kuasa untuk itu... : ) aku hanya seorang hamba...

Thursday, December 8, 2016

Ingin melupakan

Ya Robbi jika dia memang tidak Engkau takdirkan bersamaku. Aku tidak pernah memaksanya harus bersamaku
Jika kiranya dia memang tidak pernah menjadi takdirku buatlah aku lupa dengan perasaan ini padanya karena walau bagaimanapun dia memang tidak akan pernah bersamaku......  Aku ingin lupa, aku tidak ingin mencintainya jika dia mencintai yang lain.
Ya Robbi knp melupakanya begitu banyak proses tidak sesimpel saat aku mencintainya.. bantu diriku untuk lupa dengannya, beri jalan padaku tentang misteri ini. Aku tidak ingin dihina lagi karena mencintai, jangan Kau buat aku mencintai yang bukan jodohku. Jatuh  cintakan aku hanya kepada jodohku saja.. buatlah aku ikhlas untuk benar-benar melepaskanya hidup bersama yang lain.Buatlah aku Ridha dengan takdir-Mu, buatlah aku lebih bersabar dari sebelumnya karena segala sesuatu yang terjadi tidak akan bisa terjadi tanpa seizin-Mu..... termasuk semua ini, dengan takdirku mencintai dalam diam tanpa Ia tahu.
Do'aku selalu bersamamu اسبي

Tuesday, December 6, 2016

Bagian Tidak Terberitakan dari aksi super damai 212

Bagian Tidak Terberitakan dari #Aksisuperdamai212

TERLEPAS dari ada di mana posisi Anda, 2 Desember 2016 mungkin akan jadi hari yang akan diingat bagi semua pihak di Indonesia (kalau tidak dunia, mungkin juga akhirat?)

Jum’at tanggal 2 kemarin, saya mengantarkan Bapak dan Ibuk saya menuju #AksiSuperDamai212 dari Bandung. Sebelumnya, saya pergi ke aksi tersebut hanya dengan niat mengantarkan Bapak Ibuk, serta rasa penasaran ‘ah masa sih ada hatespeech beneran di aksi damai begitu?’ Kami berangkat dari Bandung sekitar pukul 03.30 pagi, mengendarai mobil pribadi. Berhenti sejenak di sebuah rest area untuk shalat shubuh, dan menemukan banyak Jama’ah yang juga hendak menuju ke Monas. Subuhannya penuh, serasa mudik, hhe.

Singkat cerita, tadinya kami mau menuju Monas melalui jalur Sudirman, tetapi berhubung tol dalam kota sangat macet akibat bus dan kendaraan Jama’ah maka kami mengarah ke Salemba. Sepanjang perjalanan, ternyata kami bersamaan dengan iring iringan FPI, FBR, dan ormas lain. Posisinya ada di kiri jalan, serta terlihat wajah senyum abang FPI seperti di foto di bawah. Berikut sedikit fotonya.

Di perjalanan, kami melewati fly over yang menuju salemba (gue gak tau namanya fly over apa wkwk), dan terlihat kondisi jalan yang amat macet.

Lajur menuju Salemba, padat oleh bis, mobil, motoris dan pejalan kaki.

Selama perjalanan tersebut, saya tidak sekalipun mendengar kalimat ‘Tangkap Ahok’, ‘Adili Ahok’, atau bahkan yang lebih parah. Memang Jama’ah ada yang membawa poster bertuliskan hal senada, tetapi itu dibawa masing-masing. Poster yang dibagikan adalah poster ‘Aksi Bela Islam III’. Hmm.

Sesampainya di Salemba, kemudian kami memarkirkan kendaraan di Pasar Kenari dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan kaki, kami melihat semangat umat yang bergegas ingin menuju Monas untuk mengamankan tempat shalat, bukan, bukan nafsu amarah.

Terlihat Jama’ah yang dengan ramah salim dengan petugas TNI area tersebut sembari menyapa, ‘Assalamu’alaikum pak.’ dan dijawab, ‘Wa’alaikumsalam, semangat ya Pak, Bu.’ Setiap beberapa meter terlihat orang yang membagikan makanan dan minuman gratis, dan sebagian besarnya TIDAK berbaju putih ataupun berseragam ormas. Satpam gedung setempat, pekerja setempat (mungkin ada juga yang dari daerah lain?), ikut membagikan. Ramah dan hangat.

Terlihat pula di jalan, Ranger Oranje DKI yang bersiap menuju lokasi tugas tetapi terjebak macet. Tidak apa-apa, bisa sambil merekam aksi yang tidak setahun sekali ini. Selain itu juga terlihat Jama’ah yang bersepeda menuju Monas.

Semakin dekat dengan area Tugu Tani, tersadar kami ternyata serombongan dengan ormas yang katanya beringas, barbar, savage. FPI, HTI, you name it. Ada juga rombongan FBR, FORKABI, Indonesia Tahajjud di antara kami. Biasanya, netizen sering mengatakan jika ada dua ormas pertama tadi siap siap saja mendengar seruan “Ganti NKRI Dengan Khilafah!” atau “Hukum Ahok Kafir Cina.” Nyatanya, TIDAK SATUPUN kalimat itu ataupun senada terdengar. Tidak pula ada catcalling. Hanya takbir dan shalawat yang terus terucap, diselingi ucapan “Silakan sarapan! Roti gratis, kopi gratis, minum dan buah juga!” Bendera hitam putih berkibar beriringan dengan Merah Putih. Bangga dan haru.

Dalam perjalanan saya tetap melihat Jama’ah yang dengan ikhlas membagikan, bahkan mengajak ngopi, haha. Berikut fotonya.

Sesampainya di area Tugu Tani, tidak bisa lagi rupanya kami maju ke arah Monas. Ya sudah, jadilah kami menggelar sajadah di area tersebut. Melihat jumlah massa yang sangat banyak (gue nggak mau berdebat soal berapa jumlah pastinya, ya), tentu bagi sebagian orang menjadi saat yang tepat untuk mendokumentasikan momen ini. Sebagian besar Jama’ah berwudhu di sisi taman tugu tani, sebab tidak ada satupun mobil wudhu atau toilet di sekitar sana. Jama’ah wanita berada di sekitar Jama’ah pria.

Shalat Jum’at dilaksanakan dengan relay langsung dari Monas, sejak Adzan pertama hingga khotbah, begitupun mulai takbiratul ihram hingga qunut yang Subhanallah. Teknisnya saya tidak tahu, jauh dari lokasi speaker, haha. Sepanjang Jum’atan, sejak langit terang hingga hujan angin, tidak ada satu Jama’ah pun yang pindah ataupun mengeluh. Semua disenyumi saja. “Hujan gini mah Rahmat Allah lagi turun dek, ga ape ape dah sini aja. Bedoa,” ujar seorang bapak di sebelah saya.

Bagi saya, tidak ada hal termanis selain bisa melihat Ibuk Bapak saya bersukacita, so excited, sebab melihat ummat yang begitu banyak, dan tidak ada satupun yang berucap benci. Bershalawat, berdo’a, bertakbir. Belum tentu saya bisa membuat mereka bahagia begini (seingat saya, ketika saya wisuda pun tidak sedemikian bahagianya). Air mata saya pun tertumpah bersama hujan. Do’a kami tertiup bersama angin, semoga sampai di hadirat-Mu.

Selesai shalat dan berdo’a, hujan berhenti. Jama’ah pun berangsur balik kanan lalu cari makan (lapar, hhe). Warung dan kaki lima sekitar kwitang ramai dipadati Jama’ah. Alhamdulillah sebuah berkah tersendiri bagi warga. Pun terlihat satgas emergency dari Klaten membagikan roti dan minum.

Sepulangnya, kami melewati area kwitang dalam, kemudian terlihat hal yang … hebat. Tepat di perumahan kumuh sisi sungai Ciliwung, warga berkumpul–mungkin penasaran–seakan menyambut Jama’ah. Di antara warga ada yang rumahnya kurang layak, hanya sebesar los warung, tetapi menuliskan di sobekan kardus “KOPI GRATIS”. Saya tidak yakin beliau dapat dana dari donatur elite global ketika rumahnya lebih memprihatinkan tetapi ikhlas menyediakan kopi gratis. Air panas itu pakai gas, kopinya beli. Tidakkah duitnya lebih baik buat kebutuhan sehari hari saja? Tidak hari ini, Bung.

Mungkin isu bahwa aksi ini merupakan ‘aksi politis berkedok agama’ itu benar. Mungkin juga salah. Mungkin ada agenda besar dibalik ini semua dan kami hanya pion-pion. Mungkin juga tidak. Anda bebas memercayai yang Anda mau.

Akhir kata, saya memilih memercayai apa yang saya lihat langsung. Bahwa bangsa ini masih punya harapan, bangsa ini masih bisa maju. Syaratnya satu, Respect dan berpikiran terbuka. Saya pun memercayai bahwa sifat baik akan menular, maka respek dan keterbukaan pikiran harus dimulai dari setiap kita (yang katanya lebih punya common sense). []

3/12/2016, Bandung.

Sumber: https://relativeinfinity.wordpress.com/2016/12/03/bagian-tidak-terberitakan-dari-aksisuperdamai212/

COPYRIGHT DISCLAIMER REDAKSI IKLAN
Copyright © 2011 - 2016 Islampos.com.

Tuesday, November 22, 2016

Harapan orang biasa

Imam sepertimulah yang kumau, tapi entah dengan takdir dan kenyataan yang terjadi.  Setidaknya itulah inginku dalam hidup, memiliki suami yang shaleh yang senantiasa menuntunku ke jalan yang Allah Ridhai, Kamu tahu? Kalimatmu itu sejuk bgt jika aku yang menerima... sungguh rasa ini begitu bergejolak tapi aku hanya mampu... menahan diri untuk menyerahkan segalanya pada Allah yang berhak atas hidupku juga hidupmu. Mana mungkin aku bertindak semauku, sedangkan Aku memiliki Allah yang memiliki segalanya...  😢😢😢

Monday, November 21, 2016

Melihatmu lagi

Kamu....
Yang masih dalam pikiranku
Yang masih terus membayangi setiap langkahku
Yang masih ku sebut dalam Do'aku
Kamu....
yang masih belum bisa begitu saja kulupakan
Karena melepaskan tak sesederhana mencintaimu, meskipun Cinta ini sendirian.
Aku bahagia dapat melihatmu dari balik pembatas jalan, hari ini
Aku bahagia melihatmu begitu santun dan tampan
Meskipun dirimu tidak pernah merasakan kehadiranku walau sedetik.. aku tidak bermasalah akan hal itu, Aku cukup bahagia dengan melihatmu hari ini, aku sangat bahagia.. 
Bagaimana bisa aku melupakanmu, jika takdir untuk mencintaimu masih bersamaku... اسبي